DAIRI UNGGUL DENGAN HASIL PERTANIAN YANG DIKELOLA MASYARAKAT CUKUP BAIK 

     
 ​Dr Eddy Berutu  melakukan pertemuan dengan puluhan masyarakat di Desa Parongil. Daerah tersebut  merupakan penghasil buah durian terbaik

     Namun sayangnya, kesejahteraan petani masih jauh dari kata sejahtera. Masyarakat mengungkapkan hingga saat ini tak ada bantuan dari pemerintah seperti pupuk mau pun alat pertanian.

      “Kita akan buat Agrowisata, seperti Wisata durian. Kita akan memotong rantai retribusi yang tidak memiliki nilai tambah. Lalu kita akan menciptakan pasar. Untuk itu kita akan dirikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk menampung Durian”

#Salamkelengate

#Dr.EddyBerutu

#Dr. EddyKeleng

#Dr. EddyKelengBerutu

#Dr. EddyKelengAte Berutu

#BalonBupatiDairi2019_2024

#DairiUnggul

Ketika Kehidupan Saling Memperebutkan Kekuasaan Dan Mempersulit Jalan Kebebasan Dalam Berbuat kebajikan-Aman Berutu

​   Hidup semakin dalam kita masuki, semakin kita merasakan tidak ada apa-apanya di muka bumi, Kita akan semakin memahami bahwa perjalanan ini hanya secuil diantara Millyaran manusia yang hidup dengan berbagai realita. Sombong, angkuh semakin tak lagi tergunakan dalam susunan kalimat apapun. Satu persatu hari-hari akan terus tergadaikan…

     Berlalunya siang membawa kita kepada malam yang mengajarkan kita bahwa segala sesuatu akan sirna tersapu senja…Dengan begitu Tuhan akan semakin sering disebutkan para penganut agama..

      Tidur akan selalu menjadi tanda tanya yang tak pernah terjawab hingga tibanya tidur panjang yang tak luput dari siapapun. Maka tolong buatkan judul wahai sang pemilik jagat…!!!!

Wassalam…..!!!

Njuah-Njuah

AMAN BERUTU

Demi Dairi Tercinta DR. Eddy KA Berutu Terus Berbuat Sesuatu Untuk Dairi-Aman630


​Presiden RI Bpk Joko Widodo : Republik ini adalah milik semua, harapan rakyat  ingin hidup lebih baik, ingin lebih sejahtera…
Demokrasi adalah mendengar suara rakyat & melaksanakannya.

Sejalan dengan paparan visi misi Bpk Joko Widodo

Dr Eddy Berutu ( Bakal Calon Bupati Dairi ) juga mengatakan, saat ini Kabupaten Dairi membutuhkan semangat baru, harapan baru…

Untuk itu maka setiap hari kami masuk ke desa desa, pasar, petani, kami ingin mendengar suara masyarakat Dairi langsung, dan saya mengajak kita semua berkomitmen untuk : 

Bekerja lebih giat dan bersemangat untuk meyongsong Kabupaten Dairi Unggul dan Sejahtera

Keterangan gambar : 

Dr Eddy K A Berutu

Ketua DPC Pro Jokowi ( PROJO ) Kab Dairi Menerima Buku Jokowi Saat Bincang Ekonomi Kerakyatan

Issu Yang Negatif Perlu Ditinggalkan Demi Memajukan Dairi-Aman630.

Eddy KA Berutu: Perubahan adalah Kesempatan untuk Berinovasi

Senin, 4 Juli 2011 | 10:51

Presiden Direktur PT Wanaartha Life Eddy KA Berutu. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Presiden Direktur PT Wanaartha Life Eddy KA Berutu. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

 

Seringkali orang takut dengan perubahan, karena tidak tahu apa yang bisa terjadi di masa depan. Kekhawatiran itu cukup wajar, karena yang kita pilih bisa saja berakibat tidak lebih baik dibanding apa yang sudah kita punya saat ini. Namun, perubahan adalah kemutlakan dan memiliki dua sisi secara bersamaan.

Perubahan justru dapat menawarkan kesempatan untuk berinovasi atau menghasilkan hal-hal baru yang lebih baik. Bagaimana caranya keputusan kita untuk berubah bisa memberikan dampak yang baik?

Eddy KA Berutu, presiden direktur PT Asuransi Jiwa Adisarana Wana- Artha (WanaArtha Life), memiliki kisah khusus mengenai bagaimana caranya berpikir positif dalam menghadapi perubahan. Berikut wawancara wartawan Investor Daily Grace Dwitiya Amianti dengan Eddy KA Berutu, beberapa waktu lalu. 

Bagaimana perjalanan karier Anda selama ini?
Saya berkenalan dengan sektor keuangan dimulai dari bank. Ketika itu, sebuah bank yang cukup terkenal di pasar ritel ingin melakukan sesuatu yang berbeda, terkait dengan loyalty program untuk nasabahnya. Pimpinan dan pemilik bank itu mendapat inspirasi bahwa kalau bank digabung dengan nonbank, baik dari segi ritel dan teknologinya, mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang baru.

Nah, saya masuk ke Bank Bali, yang waktu itu sukses di consumer market. Di situ saya berkarier terus, hingga saya menjabat vice president di individual banking. Bank Bali memiliki anak perusahaan, joint venture dengan Prudential, menjadi Prudential- Bank Bali Life. Mereka meminta saya untuk bantu mengelola perusahaan itu dan akhirnya saya menjadi anggota direksi di situ.

Selama satu tahun itu, situasinya cukup unik, karena pada waktu itu terjadi krisis keuangan (1997-1998), termasuk Bank Bali terkena. Pemilik perusahaan memutuskan untuk melepas sebagian anak usaha yang bukan core business.

Salah satu yang dilepas adalah Prudential-Bank Bali Life, jadi saya dipanggil oleh pemegang saham untuk menjualnya. Saya dan komisaris akhirnya melakukan valuasi perusahaan itu dan kita juga bicara dengan pemegang saham Prudential dari Inggris. Prudential mengganti namanya menjadi PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia).

Saya ada di persimpangan jalan pada waktu itu. Apakah saya harus kembali ke Bank Bali? Sebab, pemegang saham pada waktu itu ingin mengembangkan retail banking. Di sisi lain, apakah saya harus masuk di Prudential? Saya sudah lima tahun di bank, dan juga pernah di asuransi. Akhirnya saya putuskan untuk stay di asuransi.

Kita selalu dihadapkan pada peluang- peluang dan kemungkinan-kemungkinan. Terkadang peluang-peluang itu muncul dalam bentuk persoalan dan kita harus mengambil keputusan. Jadi, keputusan yang kita putuskan saat ini, kadang-kadang kita tidak bisa membayangkannya, apa yang akan terjadi ke depan.

Anda sarjana teknik, tapi kenapa tertarik dengan sektor keuangan?

Pada waktu itu memang industri perbankan cukup kompetitif dan menjadi primadona. Pada saat yang sama, di area sumber daya manusia (SDM), industri perbankan itu sangat kompetitif. Saya sudah menjabat VP untuk Bank Bali, itu sudah cukup tinggi di industri perbankan, tapi tidak di asuransi. Jadi, pengalaman dan proyek-proyek yang saya lakukan di bank itu bisa saya terapkan d asuransi.

Orang-orang seperti saya, kalau terjun di asuransi pada waktu itu langsung merasakan pengakuan dan manfaat yang diberikan. Kepada lingkungan, kita merasa “oke, kita lebih lengkap”. Itulah perasaan saya waktu itu.

Apakah adaptasi dalam perpindahan bidang-bidang itu sulit ?

Cukup sulit. Saya belajar banyak hal dengan perusahaan, juga ada perpustakaan dan universitas serta teman- teman yang posisinya cukup tinggi. Jadi, saya punya kesempatan untuk berkarya. Asalkan kita mau, pasti itu bisa dikerjakan.

Di luar pekerjaan, saya sudah aktif bergaul dengan teman-teman di industri. Jadi, saya banyak dapat cerita, success story, dan tantangan di pasar. Saya juga berkenalan dengan regulator, jadi lebih dinamis, sehingga proses belajar saya jadi jauh lebih cepat. Jadi, teori tentu saja saya pelajari, tapi langsung dipraktikkan. Saya langsung bicara dengan praktisi dan regulator, untuk membahas undangundang dan lain-lain. Selama di asuransi, situasinya luar biasa mengasyikkan dan inspiring.

Inspirasinya bagaimana?
Selain saya menekuni pekerjaan di lingkungan asuransi sebagai eksekutif, saya dapat kesempatan untuk aktif dalam berbagai kegiatan di luar pekerjaan, melalui asosiasi dan lainlain. Saya juga melihat bagaimana asuransi di luar negeri. Industri asuransi itu sangat penting sebetulnya untuk sebuah masyarakat. Dia bisa memberikan kepastian, dia bisa menyerap risiko yang harus dipikul oleh individu, dunia usaha, entrepreneur, dan keluarga.

Hal ini menjadi lebih menarik, karena semakin ke sini, risiko itu semakin banyak atau semakin kompleks. Industri asuransi adalah satu-satunya industri yang meredam dan menanggung risiko-risiko itu. Jadi, bisnis asuransi sebenarnya mulia, luar biasa esensinya.

Di Indonesia, peran itu belum muncul dan belum terasa. Masyarakat belum melihatnya, perannya masih sangat terbatas, dan dunia usaha juga belum terlalu memanfaatkannya. Banyak peluang, tantangan, PR yang bisa dilakukan untuk membuat peran itu muncul dan terasa. 

Kita selalu berdiskusi, selalu mencari, bukan hanya praktisinya, tapi juga regulatornya. Regulator ingin bersama-sama agar industri ini punya manfaat yang luar biasa besar. Dibanding tempat lain, di Indonesia hubungan antara pemain, industri dan regulatornya itu sangat dekat, fair, dan terbuka, respect satu sama lain. Itu yang membuat saya dan teman-teman lain bersemangat dan terinspirasi.

Kita bersyukur sekarang sudah jauh lebih baik dalam 10 tahun  terakhir. Kepercayaan masyarakat tumbuh. Dulu, situasinya sangat sulit untuk mengajak keluarga dan tetangga berdiskusi sukarela dengan agen. Peran agen dirasakan ada manfaatnya, tempat mereka bertanya, nasabah didengarkan, dan mencoba memberikan solusi. Gabungan dari itu semua membuat pertumbuhan industri menjadi mantap, sehingga setiap tahun premi tumbuh 20-25% dan kita bisa enjoy dengan pertumbuhan ini untuk bisa lebih baik lagi.

Bagaimana gaya Anda memimpin sebuah perusahaan? Apakah ada perubahan? 
Seharusnya hal ini lebih tepat ditanyakan kepada orang-orang yang saya pimpin. Dalam setiap fase, kita bekerja dan mendapatkan tanggung jawab, ada saja yang kita pelajari. Sekarang, saya di WanaArtha misalnya, teman-teman di sini lebih tahu nasabah. Saya melihat bahwa pemahaman teman-teman itu sangat penting untuk kita pakai bertumbuh. 

Saya melihat akibat banyaknya perubahan di pasar, kita pun harus berubah. WanaArtha harus berubah. Saya mendiskusikan itu kepada teman- teman dalam tim. Dari diskusi itu ada banyak masukan. Misalnya, di satu dua area tertentu kita kekurangan counterpart atau pilar-pilar yang dibutuhkan, sehingga kita ajak teman-teman dari luar untuk bergabung.

Tidak mudah untuk sebuah perusahaan swasta nasional bisa menang, karena persaingan begitu ketat. Nasabah sudah semakin maju dan kritis. Kita harus berani go extra mile. Kita harus bisa lebih dari yang biasanya, kalau itu memberi yang terbaik bagi nasabah. Kedua, kita harus bisa berubah dan rela meninggalkan comfort zone. Ketiga, kita harus berani berinovasi, kreatif. Kita tidak puas dengan perkataan “dari dulu kita begini kok”. 

Kalau kita ingin mendukung perusahaan ini sukses seperti yang kita harapkan, misalnya menjadi top ten dalam 8-10 tahun ke depan, kita harus berani mengubah diri. Siapa saja berhak mendapatkan dukungan dan kesempatan. Sebaliknya, kalau tidak cocok juga tidak apa-apa. Tidak cocok artinya mungkin di tempat lain dia bisa lebih cocok. Seleksi kami berdasarkan tujuan dan strategi, kerjanya pun keras.

Artinya, Anda tidak takut dengan perubahan. Apakah itu juga menjadi filosofi hidup Anda?
Bisa dikatakan begitu. Saya menjalani hidup itu cukup dinamis. Sejak sekolah dasar (SD) sampai sekarang, saya pernah tinggal di delapan kota. Saya ikut dengan orangtua yang tugasnya berpindah-pindah. Dulu saya juga bekerja sambil sekolah, menjual air time untuk radio, sambil siaran. Saya menjual iklan untuk ditempatkan di radio. Memang tidak ada hubungannya dengan jurusan saya, yaitu teknik. Saya sudah berpindahpindah dari bidang broadcast, periklanan, perbankan, dan asuransi. Jadi cukup dinamis, selalu berubah setiap 5-6 tahun.

Perubahan adalah sesuatu yang baik dan merupakan suatu karunia. Harusnya perubahan itu membuat kesempatan dan peluang terbuka, untuk kita bisa loncat. Saya kira, kita harus selalu menerima tantangan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. 

Apakah Anda sendiri sudah mencapai kesuksesan?
Belum. Sukses menurut saya, ada sesuatu yang baik, yang kita tinggalkan, bukan berarti kita sudah tidak ada di dunia. Kita tinggalkan kebaikan kepada orang lain agar dia lebih baik, ada sesuatu karya yang kita hasilkan. Saya tidak merasa bahwa saya sudah pada tahap itu. Itu yang saya katakan kepada anak-anak saya. Kalau perlu, anak-anak saya atau teman-teman mereka, mengatakan: “Itu kayaknya papamu dulu di situ ya, aktif di situ? Papamu dulu memimpin itu ya?” Itu manfaatnya besar, bagi masyarakat, lingkungan, bangsa, dan negara. Saya masih jauh dari situ.

Banyak tokoh meninggalkan legacy luar biasa. Mereka memberi inspirasi, membuat orang lain bisa be belajar dari apa yang dia lakukan. Itu yang saya b a y a n g k a n tentang apa yang namanya kesuksesan.

Di WanaArtha, saya lihat sebagai peluang untuk mewujudkan itu. Jadi, saya diberi tanggung jawab. Kita ingin dicintai oleh nasabah dan punya arti untuk perkembangan industri asuransi. Jadi, ini adalah peluang. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, WanaArtha bisa menjadi champion. Kita tidak melihat perusahaan lain sebagai saingan. Kita bisa meracik dan berbagi.

Ada strategi khusus untuk membawa WanaArtha menjadi champion?
Tentu saja ada, tapi itu rahasia. Tapi, mungkin kata kuncinya adalah entrepreneurship dalam konteks kepentingan bisnis, jadi dia harus inovatif dan kreatif. Inovasi tidak harus berasal dari negara maju. Inovasi itu adalah melakukan suatu hal yang berbeda, dengan cara berbeda, sehingga bisa menghasilkan yang lebih banyak, biayanya lebih murah, tentu saja sesuai dengan ketentuan yang ada. 

Kita lakukan hal itu di banyak area. Saya bersemangat dan bangga karena tim di WanaArtha punya semangat yang sama di masing-masing area. Kita sadar bahwa kita adalah perusahaan lokal, kita harus lebih cepat melihat peluang, harus lebih efisien dan efektif dalam bekerja. Kita melakukannya dalam 1-2 tahun terakhir, sehingga kita bisa tumbuh di atas rata-rata industri. Kita bekerja keras setiap tahun, tahun ini tantangannya berbeda dengan tahun lalu. Kita tahu sama-sama, keadaan capital market berbeda, karena kita lembaga keuangan, sangat terkait dengan itu. Tapi, kita percaya bahwa di dalam setiap tantangan ada peluang.

Masih ada mimpi atau obsesi yang belum tercapai?
Dalam konteks pekerjaan, saya sebetulnya punya mimpi kolektif. Sektor asuransi di Indonesia ibarat kelereng dan bola, itu belum tercapai. Kita ingin menjadi salah satu bola yang sama besarnya. Itu adalah mimpi, visi, cita-cita di dalam industri kita yang belum terwujud.

Jumlah populasi yang kita cover masih sangat belum seperti yang kita harapkan. Jumlah aset belum seperti yang kita harapkan, segmen pasar yang kita layani, kita belum memberikan harapan. Secara sosio-ekonomi, yaitu tentang produk micro insurance, kita belum memberikan manfaat asuransi kepada keluarga-keluarga sederhana.

Itu yang membuat kita bersemangat dan “terbakar”, untuk memberi yang terbaik pada tempat kita bekerja. Untuk kehidupan p r i b a d i , saya punya anak tiga dan masih kecil-kecil. Itu adalah tanggung jawab saya, ingin mereka menjadi putra-putri bangsa Indonesia yang punya hasrat dan minat yang kuat, apapun bidangnya, untuk mewujudkan cita-cita dan talentanya. Saya ingin mereka mencintai bangsanya dan memberikan nilai tambah kepada orang lain. Itu adalah cita-cita saya, dua hal itu yang belum terwujud.

Apakah Anda kesulitan membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan aktivitas di luar i t u ?
Selalu ada pilihan memang. Kalau di posisi seperti saya, memang waktu kerja kita lebih lebar dari rata-rata kita semua bekerja. Oleh karena itu, sering sekali waktu-waktu kita dengan keluarga terkorbankan. Itu sering terjadi. Oleh karena itu, dukungan keluarga sangat penting, agar mereka tulus melihat apa yang kita lakukan.

Saya berusaha untuk waktu-waktu tertentu, mengalokasikan waktu untuk mereka. Beberapa kali setahun, kita ambil cuti panjang atau bersamasama ketika saya dapat tugas ke suatu tempat. Saya ingin melihat mereka tumbuh. Saya belajar dari seorang entrepreneur, sebelumnya dia top executive, cukup besar di Indonesia. Satu yang dia lewatkan adalah dia tidak melihat anak-anaknya tumbuh. Tiba-tiba dia sadar, kok anaknya sudah menjadi sebesar ini? Dia tidak sempat mengikuti dan memberi arahan kepada anaknya ketika tumbuh. 

Itu memberi inspirasi kepada saya bahwa saya harus mengimbangi waktu antara pekerjaan, anak-anak, keluarga, keluarga besar, dan tentu juga hubungan kita kepada Yang Maha Kuasa. Pada akhirnya, apapun yang kita lakukan, itu semua untuk Tuhan. Itu juga suatu investasi waktu yang kita harus keluarkan.

Njuah-Njuah, Horass, Mejuah-njuah

DR. Eddy KA Berutu Bergotong royong bersama Warga Dairi.

​Dairi-Pinggiran jalan sepanjang Kecamatan Berampu dipenuhi ilalang setinggi 10 meter. Bahkan, ilalang dan rumput menutupi sebagian badan jalan.

Bakal Calon Bupati Dairi, Dr Eddy Keleng Ate Berutu langsung turun melaksanakan gotong royong bersama warga.

Dr Eddy Berutu yang mengenakan kemeja biru kotak-kotak tampak memotong rumput tersebut. Bahkan, ia juga sempat menggunakan mesin babat. Dalam gotong royong tersebut suasana penuh canda tawa.

Sebagai orang yang punya pendidikan yang baik dan juga terampil dalam segala aspek pekerjaan serta keluhan masyarakat dairi langsung beliau tanggapi dengan Cepat.

Masyarakat perlu menyadari bahwa beliau sangat peduli terhadap lingkungan yang baik dan tertata dengan bagus atas terobosan terbaru yang akan beliau lakukan untuk kedepannya.(AB)

80 TENAGA PENGAJAR MULAI DARI SD-SMP SE KAB.PAKPAK BHARAT MENGIKUTI PELATIHAN DI BALAI DIKLAT CIKAOK.

Pakpak Bharat-Sebanyak 80 tenaga pengajar  mulai dari SD sampai SMP se-Kab. Pakpak Bharat mengikuti Pendidikan dan Latihan (Diklat) Teknis Internet dan Multi media yang dilaksanakan selama 3 hari mulai Kamis sampai Sabtu di Balai Diklat Cikaok, Kec. Sitellu Tali Urang Julu.

           Acara yang dibuka Wakil Bupati Pakpak Bharat Ir. H. Maju Ilyas Padang, Kamis pagi (13/7) bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan peserta dalam proses belajar mengajar dengan metode pembelajaran internet dan multimedia.

           Kepala BKD, Sartono Sartonopadang, S.Sos,MM mengatakan bahwa peserta tersebut merupakan angkatan pertama dan akan ada angkatan berikutnya. Serta terus diupayakan demi peningkatan mutu pendidikan kabupaten Pakpak Bharat.(Aman Berutu)

Transparan Anggaran Dana Desa Menjadikan Desa Lebih Maju.

Transparansi Pengelolaan APBDes, sejumlah Desa pasang Baliho

       Pakpak Bharat-Sejak sebulan terakhir baliho Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) mulai terpasang di depan kantor desa masing-masing di Kabupaten Pakpak Bharat. Hal ini dilakukan sebagai bentuk transparansi pengelolaan keuangan desa dalam hal ini APBDes kepada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat tahu sejauh mana pengelolaan anggaran di desa. 

      Salah satunya pada baliho Desa Salak I Kecamatan Salak, dalam baliho APBDes berukuran besar yang terpasang di depan kantor desa tersebut dimuat informasi soal besaran  dana pendapatan, belanja dan pembiayaan desa tahun 2017. Dikarenakan APBDes berlaku selama setahun maka tentunya baliho tersebut akan terus diperbaharui setiap tahunnya.

       Bupati Pakpak Bharat Dr. Remigo Berutu Berutu, M.Fin, MBA sebelumnya memang telah menganjurkan kepada pemerintah desa agar mempublikasi APBDesa pada desa masing-masing. Anjuran pemasangan tersebut berdasarkan Permendesa nomor 4 tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Desa, pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 22 Tahun 2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2017.

        “ Ini sebagai wujud transparansi kepada masyarakat,” katanya saat dikonfirmasi via telepon selular pada Selasa (11/7). Dijelaskannya, APBDes itu milik masyarakat desa bukan milik kades  dan aparatur desa saja, maka sebagai milik publik maka APBDes harus dipublikasikan agar semua masyrakat dapat mengawasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dibiayai APBDes sehingga fitnah dan prasangka dapat dihindari.

         Saat ini hanya tinggal beberapa Desa di Pakpak Bharat yang belum mempublikasikan secara fisik dalam bentuk baliho di lokasi-lokasi yang strategis seperti di Kantor Desa sehingga dapat dengan mudah dilihat Masyarakat.(Aman Berutu)